Senin, 07 November 2011

JAWABAN UTS Interaksi dan Strategi Belajar Matematika


  1. Jelaskan tujuan pendidikan yang pertama kali dikenalkan oleh Benjamin. S. Bloom serta proses kognitif yang diperkenalkannya!
  2. Jelaskan Karakteristik matematika sebagai ilmu yang terstruktur, dan sebutkan unsur-unsur dalam struktur matematika!
  3. Apakah definisi Aksioma, Postulat, Dalil, dam Teorema!
  4. Menurut anda apa saja masalah yang dihadapi dalam Pembelajaran matematika di sekolah, bagaimana cara menghadapinya?
  5. Jelaskan 4 tahap perkembangan kognitif dari individu menurut Piaget!
  6. Apa perbedaan antara belajar dan pembelajaran, berikan satu contoh kasus belajar dan satu contoh kasus pembelajaran!<div class="fullpost">
  7. Sebutkan dan jelaskan teori belajar aliran psikologi tingkah laku!
     
JAWAB:
3.        Postulat adalah pernyataan matematika yang disepakati benar tanpa pembuktian,
Dalam geometri: setiap garis paling sedikit berisi dua titik berbeda.
Teorema/dalil adalah suatu pernyataan matematika yang masih memerlukan pembuktian
Contoh dalam geometri: jika dua buah bidang yanhg berbeda beririsan(berpotongan) maka irisanya berupa garis.
Aksioma: umumnya sama dengan postulat, hanya aksioma banyak ditemukan di aljabar, sedangkan postulat di geometri.
5.        Empat tahap perkembangan kognitif dari setiap individu menurut Piaget yaitu:
a.         Tahap sensori motor (Sensory Motor Stage) dari lahir sampai umur sekitar 2 tahun
Bagi anak yang berada pada tahap ini, pengalaman diperoleh melalui perbuatan fisik (gerakan anggota tubuh) dan sensori (koordinasi alat indra). Pada umumya pengalaman itu bersatu dengan dirinya, ini berarti bahwa suatu objek itu ada bila ada pada penglihatan. Perkembangan selanjutnya ia mulai berusaha untuk mencari objek yang asalnya terlihat kemudian menghilang dari pandangannya, asal perpindahannya terlihat. Ia mulai mampu untuk melambangkan objek fisik ke dalam simbol-simbol, misalnya mulai bisa berbicara meniru suara kendaraan.
b.         Tahap pra operasi, dari sekitar umur 2 tahun sampai dengan sekitar umur 7 tahun
Tahap ini adalah tahap persiapan untuk pengorganisasian operasi konkrit. Istilah operasi yang digunakan oleh Piaget disini adalah berupa tindakan-tindakan kognitif, seperti mengklasifikasi sekolompok objek, menata letak benda-benda menurut urutan tertentu dan membilang. Pada tahap ini pemikiran anak lebih banyak berdasarkan pada pengalaman konkrit daripada pemikiran logis, sehingga jika ia melihat objek-objek yang kelihatannya berbeda, maka ia mengatakannya berbeda pula.
c.         Tahap operasi konkrit, dari sekitar umur 7 tahun sampai dengan sekitar umur 11 tahun
Anak-anak yang berada pada tahap ini umunya sudah berada di Sekolah Dasar, sehingga semestinya guru-guru Sekolah Dasar maupun guru-guru Sekolah Pendidikan Guru mengetahui benar kondisi anak pada tahap ini. Guru harus mengetahui apa yang telah dimiliki anak pada tahap ini dan kemampuan apa yang telah dimilikinya. Anak pada tahap ini baru mampu mengikat definisi yang telah ada dan mengungkapkannya kembali, akan tetapi belum mampu untuk merumuskan sendiri definisi tersebut sevara tepat, belum mampu menguasai simbol verbal dan ide-ide abstrak.
d.        Tahap operasi formal, dari sekitar umur 11 tahun dan seterusnya
Anak pada tahap ini sudah mampu melakukan penalaran dengan menggunakan hal-hal yang abstrak. Penggunaan benda-benda komkrit tidak diperlukan lagi. Anak mampu bernalar tanpa harus berhadapan dengan objek atau peristiwanya langsung. Ia telah memiliki kemampuan-kemampuan untuk melakukan operasi-operasi yang menyatakan hubungan diantara hubungan-hubungan, memahami konsep promosi. Karakteristik lain dari anak pada tahap ini  ialah telah memiliki kemampuan untuk melakukan penalran hipotetik-deduktif, yaitu kemampuan untuk menyusun serangkaian hipotesis dan mengujinya.

Aksioma adalah pendapat yang dijadikan pedoman dasar dan merupakan Dalil Pemula, sehingga kebenarannya tidak perlu dibuktikan lagi, atau
Aksioma yaitu suatu pernyataan yang diterima sebagai kebenaran dan bersifat umum, tanpa memerlukan pembuktian
Dalil, (kaidah atau teorema) adalah kebenaran yang diturunkan dari aksioma, sehingga kebenarannya perlu dibuktikan terlebih dahulu.
7.         Teori belajar aliran psikologi tingkah laku menurut para ahli yaitu:
a.         Teori Thorndike
Edward L. Thorndike mengemukakan hubungan antara stimulus respons, hukum kesiapan  belajar, hukum latihan, hukum akibat dan penguatan. Teori stimulus respons menyatakan bahwa pada hakikatnya belajar merupakan proses pembentukan hubungan antara stimulus dan respons. Hukum kesiapan menerangkan bagaimana kesiapan seorang anak dalam melakukan suatu kegiatan. Seorang anak yang mempunyai kecendrungan untuk bertindak atau melakukan kegiatan tertentu dan kemudian dia benar melakukan kegiatan tersebut, maka tindakannya akan melahirkan kepuasaan bagi dirinya. Tindakan-tindakan lain yang dia lakukan tidak menimbulkan kepuasan bagi dirinya. Hukum latihan menyatakan bahwa jika hubungan stimulus respons sering terjadi, akibatnya hubungan akan semakin kuat. Sedangkan makin jarang hubunga stimulus respons dipergunakan, maka makin lemahnya hubungan yang terjadi. Dalam hukum akibat dikemukakan bahwa suatu tindakan akan menimbulkan pengaruh bagi tindakan yang serupa. Ini memberikan gambaran bahwa suatu tindakan yang dilakukan seorang anak menimbulkan hal-hal yang menyenangkan bagi dirinya, tindakan tersebut cenderung akan diulanginya. Sebaliknya tiap-tiap tindakan yang mengakibatkan kekecewaan atau hal-hal yang tidak menyenangkan, cenderung akan dihindarinya. Dari hukum akibat ini dapat disimpulkan bahwa kepuasan yang terlahir dari adanya ganjaran dari guru akan memberikan kepuasan bagi anak dan anak cenderung untuk berusaha melakukan atau meningkatkan apa yang telah dicapainya  itu.
b.         Teori Skinner
Skinner menyatakan bahwa ganjaran atau penguatan mempunyai peranan yang amat penting dalam proses belajar. Ganjaran merupakan respon yang sifatnya  menggembirakan dan merupakan tingkah laku yang sifatnya subjektif, sedangkan penguatan merupakan suatu yang mengakibatkan meningkatnya kemungkinan suatu respon dan lebih mengarah kepada hal-hal yang sifatnya dapat diamati dan diukur. Skinner menyatakan bahwa penguatan terdiri atas penguatan positif dan penguatan negatif. Penguatan dianggap sebagai stimulus positif, jika penguatan tersebut seiring dengan meningkatnya perilaku anak dalam melakukan pengulangan perilakunya itu. Jika respon siswa kurang atau tidak diharapkan sehingga tidak menunjang tujuan pengajaran, harus segera diberi penguatan negatif agar respons tersebut tidak diulangi lagi dan berubah menjadi respon yang sifatnya positif. Penguatan negatif bisa berupa teguran, sangsi atau peringatan.
c.         Teori Ausubel
Teori ini terkenal dengan belajar bermaknanya dan pentingnya pengulangan sebelum belajar dimulai. Ia membedakan antara belajar menemukan dengan belajar menerima. Pada belajar menerima siswa hanya menerima, jadi tinggal mengahapalkannya, tetapi pada belajar menemukan konsep ditemukan oleh siswa, jadi tidak menerima pelajaran begitu saja. Pada belajar menghafal, siswa mengahafalkan materi yang sudah diperolehnya, tetapi pada belajar menemukan materi yang telah dipeoleh itu dikembangkan dengan keadaan lain sehingga belajarnya lebih dimengerti. Ausubel mengemukakan bahwa metode ekspositori mengajar yang paling baik dan bermakna.
d.        Teori Gagne
Menurut Gagne, dalam belajar matematika ada dua objek yang dapat diperoleh siswa, yaitu objek langsung dan tak langsung. Objek tak langsung antara lain kemampuan menyelidiki dan memecahkan masalah, belajar mandiri, bersikap positif terhadap matematika, dan tahu bagaimana semestinya belajar. Sedangkan objek langsung berupa fakta, keterampilan, konsep dan aturan.
e.         Teori Pavlov
Pavlov  mengemukakan konsep pembiasaan. Dalam hubungannya dalam kegiatan belajar mengajar, agar siswa belajar dengan baik dan harus dibiasakan. Misalnya, agar siswa mengerjakan PR dengan baik, biasakanlah dengan memeriksanya, menjelaskannya, atau memberi nilai terhadap hasil pekerjaannya.
f.          Teori Baruda
Baruda mengemukakn bahwa siswa belajar itu melalui meniru. Pengertian meniru di sini bukan berarti menyontek, tetapi meniru hal-hal yang dilakukan oleh orang lain, terutama guru. Jika tulisan guru baik, guru berbicara sopan santun dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar, tingkah laku yang terpuji, menerangkan dengan jelas dan sistematik, maka siswa akan menirunya.
g.         Aliran Latihan Mental
Aliran ini mengemukakan bahwa struktur otak manusia terdiri dari gumpalan otot. Oleh karena itu jika anak ingin pandai maka ia harus dilatih otaknya dengan cara benyak berlatih memahami dan mengerjakan soal-soal yang benar, makin sukar materi itu makin pandai pula anak tersebut.
2.        Matematika sebagai ilmu yang terstruktur yaitu tersusun secara hierarkis, logis dan sistematis mulai dari konsep yang paling sederhana sampai pada konsep yang paling kompleks. Dalam matematika terdapat topik atau konsep prasyarat sebagai dasar untuk memahami topik atau konsep selanjutnya. Konsep sebelumnya harus benar-benar dikuasai agar dapat memahami konsep-konsep selanjutnya. Unsur-unsur dalam struktur matematika yaitu dari unsur yang tidak didefinisikan, kemudian pada unsur yang didefinisikan , ke aksioma/postulat dan akhirnya pada teorema.
1.        Benjamin S. Bloom membagi tujuan pendidikan ke dalam tiga domain yaitu
a.         Domain Kognitif
Bloom membagi domain kognisi ke dalam 6 tingkatan.
·           Pengetahuan (''Knowledge'')
Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dsb. Sebagai contoh, ketika diminta menjelaskan manajemen kualitas, orang yg berada di level ini bisa menguraikan dengan baik definisi dari kualitas, karakteristik produk yang berkualitas, standar kualitas minimum untuk produk, dsb.
·           Aplikasi (''Application'')
Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, dsb di dalam kondisi kerja. Sebagai contoh, ketika diberi informasi tentang penyebab meningkatnya reject di produksi, seseorang yg berada di tingkat aplikasi akan mampu merangkum dan menggambarkan penyebab turunnya kualitas dalam bentuk fish bone diagram.
·           Analisis (''Analysis'')
Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisa informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yg rumit. Sebagai contoh, di level ini seseorang akan mampu memilah-milah penyebab meningkatnya reject, membanding-bandingkan tingkat keparahan dari setiap penyebab, dan menggolongkan setiap penyebab ke dalam tingkat keparahan yg ditimbulkan.
·           Sintesis (''Synthesis'')
Satu tingkat di atas analisa, seseorang di tingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yg dibutuhkan. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas mampu memberikan solusi untuk menurunkan tingkat reject di produksi berdasarkan pengamatannya terhadap semua penyebab turunnya kualitas produk.
·           Evaluasi (''Evaluation'')
Dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dsb dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yg ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas harus mampu menilai alternatif solusi yg sesuai untuk dijalankan berdasarkan efektivitas, urgensi, nilai manfaat, nilai ekonomis, dsb
b.         Domain afektif
Pembagian domain ini disusun Bloom bersama dengan David Krathwol.

·           Penerimaan (Receiving/Attending)

Kesediaan untuk menyadari adanya suatu fenomena di lingkungannya. Dalam pengajaran bentuknya berupa mendapatkan perhatian, mempertahankannya, dan mengarahkannya.

·           Tanggapan (Responding)

Memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada di lingkungannya. Meliputi persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam memberikan tanggapan.

·           Penghargaan (Valuing)

Berkaitan dengan harga atau nilai yang diterapkan pada suatu objek, fenomena, atau tingkah laku. Penilaian berdasar pada internalisasi dari serangkaian nilai tertentu yang diekspresikan ke dalam tingkah laku.

·           Pengorganisasian (Organization)

Memadukan nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan konflik di antaranya, dan membentuk suatu sistem nilai yang konsisten.

·           Karakterisasi Berdasarkan Nilai-nilai (Characterization by a Value or Value Complex)

Memiliki sistem nilai yang mengendalikan tingkah-lakunya sehingga menjadi karakteristik gaya-hidupnya.
c.         Domain Psikomotor
Rincian dalam domain ini tidak dibuat oleh Bloom, tapi oleh ahli lain berdasarkan domain yang dibuat Bloom.
·           Persepsi (''Perception'')
Penggunaan alat indera untuk menjadi pegangan dalam membantu gerakan.
·           Kesiapan (''Set'')
Kesiapan fisik, mental, dan emosional untuk melakukan gerakan.



·           Guided Response (Respon Terpimpin)
Tahap awal dalam mempelajari keterampilan yang kompleks, termasuk di dalamnya imitasi dan gerakan coba-coba.

·           Mekanisme (''Mechanism'')
Membiasakan gerakan-gerakan yang telah dipelajari sehingga tampil dengan meyakinkan dan cakap.

·           Respon Tampak yang Kompleks (''Complex Overt Response'')
Gerakan motoris yang terampil yang di dalamnya terdiri dari pola-pola gerakan yang kompleks.

·           Penyesuaian (''Adaptation'')
Keterampilan yang sudah berkembang sehingga dapat disesuaikan dalam berbagai situasi.

·           Penciptaan (''Origination'')
Membuat pola gerakan baru yang disesuaikan dengan situasi atau permasalahan tertentu.

6.        Perbedaan belajar dan pembelajaran
Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat.
Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Sedangkan Pembelajaran adalah setiap perubahan perilaku yang relatif permanen, terjadi sebagai hasil dari pengalaman. Definisi sebelumnya menyatakan bahwa seorang manusia dapat melihat perubahan terjadi tetapi tidak pembelajaran itu sendiri. Konsep tersebut adalah teoretis, dan dengan demikian tidak secara langsung dapat diamati:
Anda telah melihat individu mengalami pembelajaran, melihat individu berperilaku dalam cara tertentu sebagai hasil dari pembelajaran, dan beberapa dari Anda (bahkan saya rasa mayoritas dari Anda) telah "belajar" dalam suatu tahap dalam hidup Anda. Dengan perkataan lain, kita dapat menyimpulkan bahwa pembelajaran telah terjadi ketika seorang individu berperilaku, bereaksi, dan merespon sebagai hasil dari pengalaman dengan satu cara yang berbeda dari caranya berperilaku sebelumnya.
Contoh belajar: belajar tentang bangun ruang di sekolah
Contoh pembelajaran: mengamati bentuk-bentuk bangun ruang yang ada di rumah.

4.        menurut saya masalah yang dihadapi dalam pembelajaran matematika disekolah adalah keprofesionalan guru yang kjurang di terapkan dengan baik oleh seorang guru. Mengapa demikian? Menurut pengalaman saya selama menjadi seorang pelajar, bahwa guru kurang memahami mengenai pendekatan (approach) dan metode mengajar.
a.Metode mengajar : cara yang digunakan untuk mengerjakan tiap bahan pelajaran. Misalnya metode ceramah, seorang guru kurang mampu membaca situasi yang sebaiknya digunakan metode ceramah pada situasi yang seperti apa? Pada umumnya guru menggunakan metode ceramah tanpa mengenal waktu. Pada saat peserta didik mengantuk, guru tersebut tetap memaksa menggunakan metode ceramah. Sedangkan metode ceramah sebaiknya digunakan pada situasi yang cerah, dan peserta didik masih bersemanagat untuk belajar. Misalnya pada pagi hari.
b. teknik mengajar guru yang kurang memilik keahlian atau bakat khusus. Misalnya untuk mengajarkan rumus akar-akar persamaan kuadrat, karena seorang guru kurang menguasai materi, sehingga guru mengajarkan bagian materi yang dikethuinya saja. Tanpa mengacu pada kompetensi dasar maupun standar kompetensi dari sub bab materi
c. pendekatan belajar-mengajar yang diterapkan oleh guru tidak maksimal. Kebanyakan guru hanya akan memahami seorang siswa yang menonjol dalam kelas saja. Tanpa memahami dan mengerti  siswa yang kurang aktif.
Solusinya yaitu berupa peningkatan kualitas dan keprofesionalan seorang guru. Berupa pengadaan lesson study








*


</div>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar