Senin, 25 Juni 2012

STB: Pendidikan Pancasila Jangan Jadi Alat Kekuasaan

Bandarlampung (ANTARA) - Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan harus dicegah untuk tidak menjadi alat kekuasaan dalam memelihara status quo, kata penggiat Sekolah Tanpa Batas, Bambang Wisudo, di Bandarlampung, Jumat.

Dalam dialog dengan kalangan praktisi dan birokrat pendidikan serta jurnalis di sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung tentang Hasil Kajian Revitalisasi Pendidikan Pancasila, mantan wartawan Harian Kompas itu menegaskan Pendidikan Pancasila bertujuan untuk mempersiapkan anak didik menjadi warga negara dewasa yang bertanggung jawab, aktif, dan berani mengambil inisiatif.
Pendiri AJI itu menyatakan bahwa setelah dibekali Pendidikan Pancasila, akan memperkokoh keberagaman, menegakkan kedaulatan rakyat, dan memperjuangkan keadilan sosial, ujar Bambang.
Dia menyatakan, kendati dalam era demokrasi, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan tetap berpotensi berbahaya untuk disalahgunakan untuk menyokong kekuatan yang berkuasa dan direduksi menjadi indoktrinasi.
"Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan harus dipahami bukan sebagai proses transfer pengetahuan, nilai-nilai dan budaya dominan, melainkan dipahami sebagai proses transformasi sosial," kata dia pula.
Tim Sekolah Tanpa Batas (STB) itu, antara lain Lodi Paat, Jimmy Paat, Bambang Wisudo, Ade Irawan, dan Vicharius Dian Jiwa kepada pemerintah dan pengambil kebijakan di tingkat lokal maupun sekolah juga merekomendasikan Pendidikan Pancasila perlu dikembangkan dalam kurikulum nasional di tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi, dengan materi pengajarannya disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak didik.
Jimmy Paat menambahkan bahwa praksis pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan tidak sekadar mengetahui dan menguasai materi saja, tapi harus sampai pada melakukan atau mempraktikkan pengetahuan, nilai-nilai, budaya dan ideologi tersebut.
"Karena itu, pemahaman secara mendalam dan penanaman nilai-nilai, serta kemauan untuk bertindak, perlu diberikan penekanan," ujar dia lagi.
Tim STB itu, menurut Bambang Wisudo, juga merekomendasikan pendekatan metodologis yang digunakan dalam pedagogi kritis terutama dengan dialog, pelibatan sosial dan hadap-masalah (problem-posing).
"Ketiga pendekatan pembelajaran tersebut sangat sentral sebagai upaya untuk membangun kesadaran kritis dari anak didik dan masyarakat secara luas," kata dia.
Dia mengingatkan pula agar pembelajaran nilai-nilai Pancasila itu semestinya tidak diajarkan dan menjadi tanggung jawab para guru pengampu mata pelajaran itu semata, tetapi juga tanggung jawab semua guru pelajaran untuk mengintegrasikannya pada proses pengajaran bidang studi masing-masing.
Ia juga menegaskan bahwa para gurunya, perlu diberdayakan bukan hanya memberikan pelatihan administratif dan metode mengajar saja, tetapi dengan memberikan penguatan otoritas profesional guru.
Bambang Wisudo juga mengingatkan bahwa memasukkan Pancasila dan Kewarganegaraan sebagai mata pelajaran yang diikutkan dalam ujian nasional bukanlah solusi untuk mengangkat derajat Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, tetapi justru akan makin menjerumuskan dan mereduksinya.
"Penilaian model portofolio lebih tepat untuk mata pelajaran ini, daripada bentuk tes formatif dan sumatif dengan alat tes yang dibakukan," ujar dia pula. (tp)

Antara, 2012, STB: Pendidikan Pancasila Jangan Jadi Alat Kekuasaan, online, http://id.berita.yahoo.com/stb-pendidikan-pancasila-jangan-jadi-alat-kekuasaan-031820481.html, 25 juni 2012



Tidak ada komentar:

Posting Komentar